Mendesak, Pendidikan Multikultur

Kurikulum pendidikan berbasis multikultur, termasuk Pendidikan Pancasila, harus segera disusun pemerintah di tengah kuatnya gelombang globalisasi. Jika nilai tradisi dan pemahaman mengenai multikultur tidak diajarkan sejak dini, identitas bangsa akan hilang.
”Tanpa kebudayaan, suatu bangsa akan punah karena kebudayaan merupakan pilar peradaban bangsa,” kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta dan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman seusai dialog budaya ”Celebrating Cultural Diversity”, Jumat (3/6) di Jakarta. ”Tanpa keanekaragaman dan perbedaan, tidak akan ada dialog. Keanekaragaman yang kita miliki inilah kekuatan kita,” ujarnya.
Budayawan dan Dewan Pengarah Asosiasi Tradisi Lisan, Mukhlis PaEni, mengingatkan pentingnya pemahaman multikultur yang kerap dicampuradukkan dengan pluralisme. Ia juga mengingatkan karakter bangsa yang dibangun dari identitas lokal yang tidak bisa dihilangkan. ”Kalau kebudayaan mati suri, bangsa kita tidak akan dikenal oleh bangsa lain,” ujarnya.
Karakter bangsa ini, kata Arief, lambat laun bisa menghilang jika pemerintah semakin mendorong ke arah perubahan dan persaingan di era globalisasi. Akibatnya, banyak tradisi ditinggalkan sehingga moral menjadi kian rendah.
”Yang diutamakan saat ini hanya kompetisi tanpa ada harmonisasi kerja sama,” ujarnya.
Untuk mempraktikkan pendidikan multikultur, Arief menilai tidak perlu ada mata pelajaran khusus tentang tema itu. Bahkan bisa saja materi ajarnya diambil dari bahan-bahan pendidikan dan pengamalan Pancasila di era Orde Baru. Yang penting proses pembelajaran di dalam ruang kelas hidup, interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan membuka ruang diskusi atau dialog.
”Bongkar saja materi-materi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) zaman Orde Baru. Tetapi jangan mengulangi kesalahan proses pembelajaran yang satu arah dan terkesan indoktrinasi. Harus kontekstual dengan lebih banyak diskusi atau dialog,” kata Arief.
”Workshop”
Untuk membahas tradisi lisan dan potensi konflik antaretnis di Sulawesi Tenggara, Universitas Haluoleo (Unhalu) bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan akan menyelenggarakan workshop internasional, festival kesenian 13 suku etnis di Sultra, dan temu tokoh adat. Serangkaian program dengan puncak acara bertema ”Perayaan Keragaman” (”Celebration Diversity”) akan diselenggarakan pada 8-10 September 2011 di Unhalu, Kendari.
”Berbagai kerusuhan dan ketegangan antaretnis yang terjadi belum ada pemecahannya. Pertemuan ilmiah ini akan membahas permasalahan utama terkait potensi konflik antaretnis. Ada budaya salah satu suku di Kendari yang bisa meredam konflik,” kata Rektor Unhalu Usman Rianse.
Saat workshop akan ada pembahasan mengenai cara menominasikan dokumen dan arsip untuk diusulkan ke program UNESCO Memory of the World.
Pada kesempatan yang sama juga ada perancangan konsep ratifikasi konvensi tentang keberagaman yang telah disahkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) tahun 2003, yakni ”Convention of Cultural Diversity”. (LUK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: