Mahasiswa Agen Perubahan Soial

Bergerak Untuk Perubahan

“Jika ingin melihat masa depan bangsa, lihatlah generasi mudanya”. Adagium ini terasa miris jika kita membayangkan akan seperti apa bangsa kita jika generasi mudanya tidak segera berbenah dan memperbaiki diri. Mahasiswa sebagai representasi generasi muda bangsa harus membawa diri dan mengaktualisasikan kemampuan intelektualnya bagi kemajuan bangsa dan Negara.
Tunas bangsa yang dididik dan di gembleng sekian tahun hendaknya mampu menelurkan karya dan berbuat nyata bagi bangsa dan Negara. Satu wujud kegiatan nyata dari segelintir mahasiswa yang patut kita jadikan contoh adalah apa yang telah dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Yogyakarta yang bergerak dan menyingsingkan tenaga dan pikirannya membantu saudara sebangsa yang terkena musibah meletusnya gunung merapi beberapa waktu lalu. Tindakan mereka patut dicontoh sebagai suatu contoh tindakan riil untuk berbagi dengan sesama, sementara disisi lain banyak juga aksi protes mahasiswa yang menyuarakan ketidaksiapan dan ketidakmampuan pemerintah dalam menangani bencana.
Tidak banyak memang mahasiswa yang bisa melakukan itu. Apalagi di era global dimana gaya hidup hedonisme semakin menjadi pandemi di setiap lapisan masyarakat. Gaya hidup hedonisme mengembangkan sikap-sikap egoisme dan mengkerdilkan sikap-sikap kebersamaan. Sebagaimana yang jamak terlihat di sekeliling kita sikap mahasiswa ysng skeptis terhadap lingkungan sekitar dan lebih mementingnya ego sendiri.
Akhir-akhir ini masyarakat sedang di landa kecemasan dengan maraknya aksi demo yang terkadang di setir oleh sekelompok orang yang punya kepentingan dan akhirnya demo yang berlangsung pun berakhir dengan kisruh. Kecemasan ini ditambah adanya fakta yang menunjukkan mahasiswa dahulunya kritis terhadap pemerintah yang dikritiknya, setelah menjadi pejabat pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dulu dikritiknya. Kecemasan inilah yang selanjutnya berujung pada ketidakpercayaan masyarakat pada mahasiswa dan menganggapnya sebagai kelompok yang hanya bisa bicara saja.
Hal-hal inilah yang biasanya kurang diperhatikan oleh hampir sebagian gerakan mahasiswa yaitu mengkoreksi orang lain terutama pemerintah tetapi dirinya sendiri malahan tidak dikoreksi. Mahasiswa sebagai agent of social change selain berperan sebagai kontrol pemerintah, juga punya tanggung jawab akademik yang harus dilaksanakan. Ini artinya, keseimbangan keduanya mutlak menjadi prioritas yang bebarengan.
Oleh karena itu, menjadi orang yang hanya bisa bicara kurang dibutuhkan orang di negeri ini. Wujud nyata bentuk sumbangsih kita pada bangsa dan negaralah yang akan menunjukkan siapa kita, apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat kita? Jangan mengaku sebagai pembela rakyat lemah, melarang tindak korupsi, tetapi kita sendiri mencontek ketika ujian, mengkorupsi uang organisasi. Perubahan tidak hanya dalam tataran teori saja, tetapi perubahan harus didahului dengan aksi/gerakan nyata yang memantik semangat untuk berubah.

4 responses to this post.

  1. siphhh lahhh…owalahhh om Q ternyata pinter bkin tulisan jgaaa……
    siap…laksanakan hahhahha….

    Balas

  2. lanjutkan, kang …

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: