Laporan KKL Fakultas Dakwah BImbingan Penyuluhan Islam IAIN Walisongo Semarang

LAPORAN

KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
PENAMAS KOTA MALANG DAN
PONPES BALI BINA INSANI

Disusun oleh:
Siswo Ari W 081111011
Yusuf Efendi 081111012
Rizkiyani 081111013
Rizki Mulyadi S 081111014
Reza Firmansah H 08111101
Miftah Maulana H
Nur lathifah
Imroatul Azizah

FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2011

PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, Dosen Pembimbing Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang, menyatakan bahwa mahasiswa yang tersebut di bawah ini:

Nama : Yusuf Efendi
NIM : 081111012
Fakultas : Dakwah
Jurusan : Bimbingan dan Penyuluhan Islam

Benar-benar telah mengikuti rangkaian acara Kuliah Kerja Lapangan (KKL) pada tanggal 10 November 2011, Yayasan Laroyba Ponpes Bali Bina Insani pada tanggal 11 November 2011 yang di selenggarakan oleh Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Dan setelah diberikan bimbingan secukupnya, dengan ini laporan tersebut dapat diterima secara sah dan memenuhi syarat sebagai Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Semarang, 26 November 2011

Pembimbing,

Hj. Mahmudah, S.Ag.,M.Pd
NIP:

KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim

Puji syukur bagi Allah SWT kami ucapkan, atas rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat mengikuti KKL dari awal hingga penyusunan laporan ini tanpa adanya halangan apapun.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah ke pangkuan Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi inspirasi bagi seluruh umatNya di muka bumi ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan tersebut sampai kepada penulisan laporan Kuliah Kerja Lapangan ini, khususnya kepada:
1. Bapak Drs. H. M. Sulthon, M.Ag, Dekan Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
2. Ibu Hj. Mahmudah, S.Ag,M.Pd, Dosen Pembimbing dalam pembuatan laporan KKL ini.
3. Ibu Hj. Mahmudah, S.Ag.,M.Pd, Ketua Panitia Penyelenggara Kuliah Kerja Lapangan (KKL) semester genap 2011 dan seluruh pihak yang terkait.
4. Semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam pelaksanaan penyusunan laporan ini.
Ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya penyusun sampaikan atas segala arahan dan bimbingan yang telah diberikan. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik atas segala yang telah dilakukannya, semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Semarang, 26 November 2011
Penulis,

Yusuf Efendi
NIM. 081111012

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………….. i
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………………… ii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………… iii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………… iv
BAB I : PENDAHULUAN ……………………………………………………… 1
BAB II : LANDASAN TEORI …………………………………………………… .3
A. Penamas Kota Malang……………….. ……………….………………………. .7
B. Ponpes Bali Bina Insani………………….. ……………………………………..8
BAB III : PELAKSANAAN KKL ………………………………………………. 13
A. Choaching (Pembekalan) …………………………………………………….. 13
B. Pelaksanaan KKL di Penamas Malang…….…………………………………… 14
C. Pelaksanaan KKL di Bali Bina Insani…………………………………………..17
BAB IV : ANALISIS …………………………………………..…………………. 26
A. Analisis KKL di Penamas Malang ………………..………………………… 26
B. Analisis KKL di Bali Bina Insani ……………………………..………………..26
BAB V : KESIMPULAN ……………………………………………………….. 31
A. Kesimpulan ………………………………………………………………….. 31
B. Saran-saran …………………………………………………………………. 32
C. Penutup …………………………………………………………………….… 32

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam undang-undang pendidikan nasional dijelaskan bahwa pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia memiliki tujuan untuk mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Tujuan tersebut secara umum selaras dengan tujuan yang dimiliki oleh IAIN Walisongo Semarang sebagai sebuah lembaga tinggi Islam. Dalam hal ini IAIN Walisongo bertujuan untuk mengembangkan system belajar yang diterapkan di IAIN Walisongo sendiri. Pengembangan tersebut berorientasi pada terciptanya sosok manusia yang memiliki keseimbangan antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama islam. Dalam rangka untuk mengimplementasikan tujuan-tujuan diatas, IAIN Walisongo Semarang juga berusaha untuk menciptakan tenaga-tenaga ahli yang professional sesuai jurusan-jurusan yang ditelah ditempuhnya.
IAIN Walisongo Semarang dalam mewujudkan tujuan-tujuan diatas mencoba untuk memfasilitasi mahasiswanya dengan membuka beberapa jurusan dengan kajian berbeda-beda. Salah satunya adalah Fakultas Dakwah sebagai salah satu fakultas di lingkungan IAIN Walisongo Semarang merupakan salah satu fakultas yang mengemban tugas mulia tersebut, yakni berusaha membentuk sarjana Muslim yang ahli dan Profesional dibidang Dakwah, baik secara manajemen, penyuluhan ataupun melalui komunikasi. Untuk menyengsong hal tersebut, dikeluarkanlah kebijakan yang diatur masing-masing fakultas. Oleh karenanya fakultas harus memberikan bekal bagi mahasiswa agar bisa terjun di lapangan sesuai dengan profesi yang dicita-citakan oleh mahasiswa fakultas Syari’ah. Salah satu sarana untuk mewujudkan ketrampilan dan pengalaman tersebut adalah dengan dilaksanakannya KKL (Kuliah Kerja Lapangan).
KKL ini merupakan salah satu bentuk metode belajar praktek yang diterapkan di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Dalam hal ini KKL bertujuan untuk memformulasikan teori-teori yang telah didapatkan dalam perkuliahan dengan realitas kegiatan ilmu dakwah khususnya bimbingan dan penyuluhan islam seperti Laborat Dakwah yang berfungsi sebagai sebuah tempat observatorium yang memiliki orientasi pendidikan di Fakultas Dakwah. Selain itu KKL juga merupakan wahana untuk mengimplementasi teori-teori mata kuliah yang telah diberikan. Terutama teori-teori beberapa mata kuliah khusus yakni mata kuliah yang berkaitan dengan bagi Bimbingan dan Penyuluhan islam, sehingga sangat erat kiranya apabila PENAMAS Kementrian Agama kota Malang, dan Yayasan Laroyba (Ponpes Bali Bina Insani) Meliling, Tabananan Bali dijadikan sebagai obyek KKL. Hal ini dikarenakan dua tempat tersebut merupakan institusi yang bersentuhan langsung dengan kajian ilmu dakwah khususnya Bimbingan dan penyuluhan islam yang selama ini menjadi focus kajian bagi Konsentrasi Ilmu Dakwah.
Dengan demikian, kiranya KKL merupakan sarana yang cukup tepat bagi seluruh mahasiswa Fakultas Dakwah untuk bisa mengembangkan potensi dirinya sebagai bagian dari civitas akademika IAIN Walisongo Semarang pada umumnya dan Fakultas Dakwah khususnya. Sehingga tujuan pendidikan sebagaimana diungkap diatas akan dapat terwujud bersama-sama dan bisa menjadi sebuah kontribusi yang signifikan bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
B. Tujuan dan Persyaratan KKL
Tujuan diselenggarakannya Kuliah Kerja Lapangan mengandung maksud untuk memperdalam keahlian kemampuan mahasiswa sesuai dengan kompetensi yang di dalami di fakultas, sehingga menghasilkan generasi mahasiswa yang Profesional dalam pekerjaannya hal ini dibuktikan dengan kehandalan mahasiswa dalam penguasaan teori dan implementasinya di lapangan.
Dilihat dari substansi pentingnya pelaksanaan KKL, pemberian materi atau bekal bagi mahasiswa dalam ranah praktik sangatlah dibutuhkan. Maka dari itu komposisi arahan yang lebih bagus dengan kolaborasi format, sistematika, dan desain untuk pelaksanaan KKL sangat perlu untuk dikembangkan. Agar ide mahasiswa (peserta) KKL tidak hanya terbayang pada tulisan (teori) ilmu dakwah. Akan tetapi mahasiswa juga bisa menguasai bagaimana praktik dari teori-teori yang telah diberikan. Selain itu dalam KKL ini mahasiswa juga diharapkan bisa mengamati langsung bagaimana system kerja PENAMAS kota malang dan Ponpes Bali Bina Insani yang selama ini hanya didengar dari beberapa pihak yang pernah berkunjung ke tempat tersebut.
Secara spesifik, pelaksanaan KKL setiap jurusan di lingkungan Fakultas Syari’ah khususnya bagi mahasiswa Konsentrasi Bimbingan dan Penyuluhan Islam dimaksudkan untuk :
1. Mengembangkan daya keilmuan mahasiswa di lingkungan Fakultas Dakwah sesuai disiplin ilmu yang digeluti di setiap jurusan.
2. Upaya elaborasi dan uji teoritik terkait dengan Bimbingan dan Penyuluhan Islam dan Ilmu Dakwah dalam konteksnya langsung.
3. Memperkaya pengalaman di lapangan ilmu Dakwah dan Penyuluhan Islam, sehingga bisa didapati upaya dalam membenahi konsep metodologis atau praktiknya yang dirasa masih ada kekurangan di beberapa sisi.
Syarat peserta KKL di Fakultas Dakwah secara umum telah ditetapkan, untuk mahasiswa program studi konsentrasi Penyuluh Sosial meliputi:
1. Tercantum sebagai mahasiswa aktif pada semester berjalan.
2. Dalam Formulir Rencana Studi (FRS) tercantum Mata Kuliah KKL pada semester berjalan.
3. Pencapaian IPK pada saat mengajukan minimal 2,00.
4. Objek KKL harus memiliki keterkaitan dengan disiplin ilmu dan kompetensi yang dikembangkan oleh Fakultas dan Jurusan/Program Studi. Karena itu obyek KKL terdiri atas 2 (dua) kategori kompetensi, yaitu kompetensi mayor yang berupa keahlian fakultatif dan kompetensi minor sesuai keahlian/ profesi yang dikembangkan oleh masing-masing jurusan/program studi.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. PENAMAS KOTA MALANG
Di Penamas tidak ada penyuluh non islam, jika ada klien non islam maka mereka datang ke gereja. Dalam metode penyuluhan ada beberapa macam, misalnya:
1. Metode Persuasif
2. Metode Ceramah
3. Metode Face To Face
4. Metode dengan memberikan bantuan pinjaman kepada warga yang membutuhkan.
Biasanya kendala yang sering terjadi didalam penyuluhan di Penamas Kota Malang ini sering dihadapi dengan keterkaitan waktu. Dikarenakan para penyuluh di Penamas ini Perempuan/ ibu-ibu yang mempunyai kesibukan lain. Objek yang sering dikunjungi dalam penyuluhan adalah LP dan Cacat mental, dan paling banyak menangani kasus Narkoba seperti terdapat di panti Rehabilitas.
Didalam lembaga Cacat mental biasanya dari penyuluh setiap seminggu sekali ada pemberian materi pembinaan mental. Pihak PENAMAS sendiri belum terealisasi untuk memberikan penyuluh ke Panti Wreda. Biasanya setiap 3 bulan sekali para penyuluh dikumpulkan untuk sharing bersama. Kelompok penyuluh itu dinamakan dengan “ POKJALU” (Kelompok Pekerja Penyuluh).
PENAMAS mempunyai program unggulan yaitu memberikan penyuluhan dan bekerja sama dengan pihak-pihak lain, seperti di rumah sakit contohnya mengurusi jenazah.
Didalam program-program yang ada didalam lembaga yang menjadi Program kerja PENAMAS yaitu :
1. Program Pendidikan Al-Qur’an dan MTQ
Pada tingkatan Nasional dan Daerah diseluruh Indonesia dibentuk badan bernama
“ LEMBAGA PENGEMBANGAN TILAWATIL QUR’AN ” disingkat dengan LPTQ. LTPQ ini bertujuan untuk mewujudkan penghayatan dan pengalaman Al-Quran dalam masyarakat Indonesia yang ber Pancasila.
Dalam pencapaian tujuan LPTK melakukan usaha-usaha:
• Menyelenggarakan Musabaqah Tilawit Qur’an ditingkat Nasional dan Daerah.
• Menyelenggarakan pembinaan Tilawah (baca dan lagu), Tahfizh(hafalan), Khat (tulis indah), puitisasi, dan pameran agama.
• Meningkatkan pehaman Al-Qur’an melalui penerjemahan,penafsiran, pengkajia dan klarifikasi ayta-ayat.
• Meningkatkan penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

2. Program Penyuluhan dan Lembaga Dakwah
Penyuluh Agama adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas tanjung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama.
a. Penyuluh agama yang dibebaskan sementara karena dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat berdasarkan peraturan pemerintah No. 30 tahun 1980, kecuali pemberhentian sebagai Pegawai Negeri Sipil.
b. Penyuluhan agama yang dibebaskan sementara sebagai Pegawai Negeri Sipil berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 4 Tahun 1996, apabila telah mencapai batas usia pensiun Pegawai Negeri Sipil diberhentikan pembayaran gajinya, sedangkan pemberhentian yang bersangkutan sebagai Pegawai Negeri Sipil dilakukan setelah ada keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetep sesuai dengan ketentuan Pasal 27 Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1979.
3. Program Siaran Dan Tamaddun
Pasal 29 UUD 1945 maka Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara menjamin kemerdekaan dan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya msing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya. Penyiaran agama adalah segala kegiatan yang berbentuk, sifat dan tujuannya untuk menyebar luaskan ajaran sesuatu agama.
a. Penyiaran dan pengembangan agama kepada orang atau orang-orang yang telah memeluk suatu agama lain, merupakan cara penyiaran dan pengembangan agama yang tidak sesuai dengan semangat kerukunan, saling menghargai, hormat menghormati, antar sesama pemeluk agama.
b. Penyebaran agama tidak dibenarkan dilakukan dengan menggunakan bujukan atau pemberian materiil uang, makanan, dll. Agar supaya orang telah memeluk suatu agama tertentu, tertarik untuk memeluk suatu agama tertentu.
4. Program Publikasi Dakwah dan HBI
Program ini meliputi : penyalah gunaan atau penodaan agama, tentang amaliah ramadhan, tutunan ber lebaran, dan mengeluarkan zakat.
5. Program Pemberdayaan Masjid
a. Tentang pengelolaan kemakmuran masjid meliputi: bangunannya baik dan alat-alatnya lengkap, masjid sebagai tempat ibadah (jamaah sholat), masjid sebagai tempat pendidikan, masjid sebagai tempat kegiatan sosial dan pengorganisasian.
b. Tentang pendirian atau penyediaan tempat-tempat sholat maksutnya adalah bangunan atau ruangan khusus yang sengaja disediakan atau didirikan, untuk umum buat mengerjakan ibadah 5 waktu yang memenuhi syarat-syarat kebersihan dan kepantasan sesuai dengan fungsinya selaku tempat ibadah dan tujuannya agar setiap orang yang beragama islam dapatmelakukan dan menunaikan sholatnya dengan sebaik-baiknya dengan ketentuan agama islam dalam rangka meningkatkan pembangunan khususnya dibidang agama.
c. Tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musholah
• Penggunaan pengeras suara oleh masjidatau musholah telah menyebar diseluruh indonesia baik untuk adzan, membaca ayat Al-Qur’an, peringatan hari besar islam,dll
• Penggunaan pengeras suara selain menimbulkan kegairahan beragama dan menambah syiar keagamaan.
Contoh kasus yang pernah ditangani oleh Penyuluh dari PENAMAS salah satunya tentang menangani pernikahan yang beda agama. Istri beragama Islam sedangkan suaminya beragama Kristiani. Pada waktu pernikahan dari pihak istri baik-baik saja tidak ada masalah dan setelah menikah ibu dari perempuan menyuruh anaknya untuk bercerai karena menganggap bahwa pihak laki-laki tidak memberitahu keluarganya dan membohonginya dan dianggap pernikahannya tidak sah. Tetapi dari pihak suami dan istri menganggap pernikahannya sah. Karena suaminya sudah masuk islam dan sudah menjelaskan pada ibunya. Ibu perempuan itu tetap teguh pada pendiriannya untuk menyuruh anaknya bercerai.
Dari penyuluh PENAMAS memberikan saran :
a. Mempertemukan kedua belah pihak keluarga dan memberikan nasehat kepada ibu perempuan itu bahwa pernikahan anak itu sah. Karena kalau yang namanya pernikahan itu sudah ijab qabul maka pernikahan akan sah. Karena laki-laki itu dalam ajaran agama Islam menikah tidak membawa wali itu tidak apa-apa yang harus ada walinya itu adalah perempuan.
b. Setelah keluarga ditemukan, keluarga disuruh untuk memikirkan dan mempertimbangkan masalah itu. Dan sampai klien dipanggil lagi untuk melanjutkan tahap berikutnya. Akhir dari semua masalah alhamdulillah telah selesai. Karena sang ibu sudah merelakan anaknya untuk menikah dengan laki-laki itu. Dan kehidupan rumah tangga anaknya pun jadi membaik karena adanya saling menghormati dan memahami satu sama lain.

B. PONPES BALI BINA INSANI
1. Sejarah Bina Insani
Cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Bali Bina Insani tgl, 27 Oktober 1996 adalah berawal dari pendirian Pondok Yatama tgl 27 Oktober 1991. Sejak mudir ma`had masuk di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathon tahun 1968, jiwa pondok pesantren mulai tersemai. Hal ini lebih terasa sejak belajar di Pondok Pesantren Assyafi`iyah Jakarta tahun 1977 dan sering silaturrahmi ke Pondok Pesantren Darunnajah. Setelah menyelesaikan kuliah di fakultas Syari`ah Syarif Hidayatullah tahun1983 dan mulai bertugas di Pengadilan Agama Denpasar tahun 1984, suatu saat bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang Sumbawa. Saat itulah betul-betul tersentuh dengan kehidupan pondok pesantren yang terasa damai , sederhana dan sangat bersahabat.
Ketika keberadaan dan keadaan Umat Islam di Bali mulai banyak tahu melalui ceramah dan khutbah-khutbah serta kunjungan sosial, dimana kondisinya jauh dari harapan, jumlahnya hanya 6,17%, ekonomi memprihatinkan, bertempat tinggal dipesisir pantai / pedalaman, pendidikan jauh terbelakang dan belum ada pondok pesantren yang refresentatif. Kenginan mendirikan pondok pesantren di Denpasar dengan latar belakang diatas terbentur tidak adanya lahan, sehingga keinginan menggebu ini dimulai di Desa Pegayaman dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Iman pada tgl. 24 Oktober1988 diatas tanah wakaf Bapak Said Djamaludin seluas 5000 m2 dan diresmikan oleh Bapak H. Habib Adnan Ketua MUI Balli. Pondok pesantren ini kurang berkembang meskipun berada pada miliu yang 100% beragama Islam, karena daerahnya terisolir, jauh dari perkotaan dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang arti penting pendidikan. Kondisi ini tidak menyurutkan tekad untuk mencarikan solusi terhadap problem umat di atas melalui lembaga pendidikan pondok pesantren.
Pada saat ceramah di pengajian Masyarakat Sulawesi Selatan Monang Maning Denpasar, seorang peserta pengajian bernama Hj. Sopiah Dewa Pere bertanya dan mengajak mendirikan panti asuhan dengan menyiapkan rumahnya sendiri di Sembung Gede Tabanan sebagai asrama, serta kesanggupan untuk mencarikan kebutuhan sehari-hari santri. Peluang emas ini tidak disia-siakan untuk mendirikan pondok pesantren meskipun letaknya di Tabanan, (sebuah kabupaten terdekat dengan Denpasar).
Maka diresmikanlah lembaga pendidikan yang bernama Pondok Yatama tgl. 27 Oktober 1991 oleh Bapak H. Zayadi, Kakanwil Depnaker Bali, dengan didampingi Bapak Kakanwil Sosial, Bapak Said Djamaludin serta umat Islam lainya. Rekomendasi pendiriannya dari Bupati Tabanan baru keluar tgl. 7 Juni 1996 no. 451.44 / 2609 / 505. Priode awal ini santrinya 7 orang anak yatim laki-laki, (Roy Teguh Musa dkk) dengan seorang Ustad dari Darunnajah yaitu Yuli Saiful Bahri yang kemudian diteruskan oleh Nur Kholik, Agam Indrapura dan Qosim Tutu Deket.
Agar keberadaan pondok sesuai dengan peraturan yang berlaku, didirikanlah badan hukum dengan nama Yayasan La-Royba pada tgl.30 April 1992 dengan nama Amir Syarifudhin, SH. Dan memperoleh izin Kakanwil Depsos Bali no. 118 / BBS / 05 / XI / 92 dengan ketua Drs. Kt. Imaddudin Djamal, SH. sekretaris Hj. Sofiah Dewa Pere, bendahara Dewi Yana Robi, penasehat diantaranya Prof. KH. Ali Yafie dan Ny. Hj. Ratna Maida Hasjim Ning.
Perkembangan pondok Yatama yang cukup pesat melahirkan simpati dan juga antipati. Ketidak senangan banyak pihak dihadapi dengan sabar, tawakal, penuh kesabaran, penuh harap kepada Allah sembari membenahi segala yang diperlukan, kerja keras dan pendekatan kultural kepada semua pihak. Pembenahan yang dilakukan termasuk merancang pemindahan pondok ke lokasi yang lebih luas dan prospektif, mengingat lokasi sekarang hanya 4 are, bising dan sudah tidak memadai untuk menampung santriwan/ti yang terus bertambah.
Pengadaan tanah terealisir tahun1993 dengan membebaskan tanah seluas 5897m2, harga per are Rp 950.000, berlokasi di Desa Meliling, Kecamatan Kerambitan Tabanan. Pengurusan surat-suratnya diselesaikan oleh Bapak H. Mas Djumhari. Alhamdulillah pembayarannya tidak ada masalah berkat bantuan teman-teman diantaranya Bapak Dr. Hasjim Ning, yang membantu 25 juta, Bapak Subur Karsono, Bapak Abdullah Bamasak dll..Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tgl. 27 Oktober 1993 (Ultah ke 3) oleh Bapak Dr. Hasjim Ning dan do`a oleh Direktur Pondok Pesantren Darunnajah Bapak KH. Drs. Mahrus Amin.
Bertepatan dengan kepulangan dari Mekah tahun 1995, selesai pembangunan asrama putra dan hijrahlah para santriwan menuju lokasi baru di Meliling, dengan ittiba’ kepada Baginda Rasul Muhammad saw, maka proses kepindahan dilakukan dengan jalan kaki sebagaimana Rasululloh saw hijrah ke Madinah. Pada ulangtahun ke 6 asrama putri yang dibantu sepenuhnya oleh Bapak H. Faisal Hashim selesai, dengan menelan biaya 52 juta dan mulai ditempati. Program selanjutnya membuat sarana ibadah, proyek ini di biayai oleh Ibu Hj. Ari Murti Rosarius dengan biaya 37 juta. Dan sarana Ibadah ini diresmikan tahun 1997 oleh Pangdam IX Udayana, Bapak Mayjen H. Adam Damiri, sejak itulah diresmikan pula nama ma`had Bali Bina Insani berikut Madrasah Tsanawiyah Bali Bina Insani.
Program untuk membuat Darunnajah kecil di Bali mengharuskan pembenahan management pendidikan, perekrutan guru-guru dari pondok pesantren yang menerapkan sistem bahasa asing (Arab, Inggris) dalam komunikasi sehari-hari seperti Darunnajah, Al-Ikhlas, Baitul Arqom. Begitu juga pendirian Madrasah Tsanawiyah Bali Bina Insani tgl, 9 Agustus 1997 dengan kepala madrasah pertama Ibu Ety Supriati, BA. Selama ini anak-anak belajar pada sekolah-sekolah umum di luar pondok pesantren dengan segala problemanya seperti transportasi, biaya tinggi dan masalah moralitas. Adanya lembaga formal menyebabkan instansi terkait memberikan atensi seperti pendirian kantor, dibantu oleh Depag dengan biaya 10 juta, perpustakaan dibantu oleh Depdikbud dengan biaya 12,5 juta.
Pendirian madrasah Aliyah Bali Bina Insani tgl, 16 Juli 2000 dengan kepala sekolah Bapak Karen, SPd. adalah merupakan jawaban atas tamatnya satu kelas MTs. Bali Bina Insani untuk dapat melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi. Setelah MTs dan MA berdiri maka berturut-turut dapat bantuan 6 bangunan kelas dari Depdiknas senilai 180 juta dan penyelesaian asrama putri senilai 65 juta, melalui Bapak H. Baedhowi, Sekjen Depdiknas yang sempat berkunjung ke pondok pada saat melakukan sosialisasi tentang Komite Sekolah. Ruang belajar MA dibantu oleh banyak pihak di antaranya satu ruangan dari Bapak H. Isfan Fajar Satrio, putra Wakil Presiden, Bapak Tri Sutrisno. Satu ruangan dari Rotary Club Nusa Dua. Dapur umum dari Ibu Hj. Siti Hardianti Indra Rukmana, putri presiden RI Bapak H. Soeharto. Kebutuhan mes dan tempat tinggal guru yang sudah berkeluarga dibangun oleh Ibu Hj. Ny. Soebechan Soekandar senilai 125 juta. Bangunan lab MA senilai 80 juta serta ruang belajar MTs, dibantu oleh Depag.
Pembenahan pada kurikulum terimbangi dengan penugasan Ustad Yuli Saiful Bahri dkk. dari Darunnajah, Ustadzah Darmawati dkk. dari Al-Ikhlas, Ustad Anton dkk. dari Al-Iman Gontor, Ustad Fauzi dkk. dari Nahdlatul Wathan Pancor, Ustad Turoichan dkk dari Jawa Tengah dll. Mereka adalah sebagai pegasuh yang siap 24 jam membimbing dan mengajar para santriwan/ti dengan nilai-nilai agama khususnya bahasa Arab atau Inggris. Pendidik dari luar dengan merekrut guru-guru dari sekolah umum negeri sebagai tenaga honorer di MTs dan MA tanpa melihat idiologinya dengan tujuan agar pengalaman dan pencapaian kurikulum terdapat keseimbangan.
Ada ketertarikan tersendiri bagi tamu luar yang berkunjung ke Pondok Pesantren Bali Bina Insani misalnya Prof. Dr. Asjumardi Azra direktor UIN Jakarta sangat respek terhadap 6 orang guru non muslim yang mengajar di pondok ini. Sebagai wujud Rahmatan Lil `Alamin, kata beliau. Begitu juga ANTV pernah meliput seluruh kegiatan dalam 24 jam. Karena ketertarikannya terhadap pelestarian kultur masyaraskat Bali di pondok di antaranya dengan melakukan pembahasan kitab Ta`limul Muta`allim dengan menggunakan bahasa Bali. Belum lagi kesiapan tidak berbeda dalam perbedaan, sebagai wujud toleransi beragama, mengingat Pondok Pesanten Bali Bina Insani berada dalam miliu yang semua penduduk aslinya beragama Hindu.
Pengembangan pondok untuk memisahkan asrama putra dan asrama putri di lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki, memberikan rasa aman pada orang tua dan untuk memudahkan menegement. Pelaksanaan program ini dilakukan pada tahun 2004 dengan membebaskan tanah seluas 12 are dengan harga 48 juta berlokasi tidak jauh dari asrama lama. Para donatur diantaranya Ibu Hj. Swanita Ning yang menyumbang sebesar 14 juta. Untuk pembangunan asramanya Depdiknas membantu sebesar 75 juta.
Demikianlah sekelumit sejarah Pondok Pesantren Bali Bina Insani beserta pengembangannya. Pengurus mengharapkan dukungan moral dan material semua pihak,karena existensi umat Islam di Bali serta masa depan anak Bangsa jadi tanggung jawab kita bersama. Semoga usaha ini mendapat ridlo dari Allah SWT. Amin. .
2. Visi dan Misi Bina Insani
Visi :
Menjadikan Pondok Pesantren sebagai sumber ilmu pengetahuan, Ketrampilan peradaban dalam rangka mengabdi pada agama, bangsa dan Negara.

Misi:
• Membentuk SDM yang unggul, berkwalitas berbudi luhur, berbadan sehat dan berpengalaman luas.
• Mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin dalam berbagai aktivitas pengabdian kemasyarakatan.
• Bersahabat dengan semua umat tanpa melihat sekat, baik etnis, geografis, maupun ideologis.
• Menyiapkan warga Negara yang berkepribadian Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

CATUR MOTTO :
• Beribadah yang khusyu`
• Bekerja yang giat
• Belajar yang tekun
• Bergaul yang santun

CATUR SIKAP:
• Keikhlasan
• Kesederhanaan
• Kemandirian
• Kesetiakawanan
3. Sistem Pendidikan Bina Insani
Pontren Bali Bina Insani mengadopsi sistem yang ada di Pondok Pesantren Gontor yaitu mencoba menerapkan komunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa arab dan inggris yang dibimbing langsung oleh Ustad dan Ustazah yang menguasai bidang ini.Sistem ini diterapkan agar para santri dapat mengkaji literatur klasik ( kitab kuning ) serta mempersiapkan mereka agar mampu memasuki pangsa kerja sebagai guide di bidang kepariwisataan mengingat Bali merupakan primadona wisatawan manca negara.
4. Sarana dan Fasilitas Bina Insani
Pondok pesantren ini mengelola lembaga formal Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah (dan lembaga informal Madrasah Diniyah) Bali Bina Insani yang berdiri pada tahun 1996 (Madrasah Tsanawiyah) dan tahun 2000 ( Madrasah Aliyah). Kedua madrasah ini mendapat pembinaan langsung dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan nasional serta diajar oleh guru berpengalaman dari sekolah-sekolah umum negeri yang ada di Tabanan baik muslim dan non muslim, sehingga dapat meluluskan santrinya setiap tahun dengan memuaskan.
Fasilitas lainnya yaitu : 7 ruang belajar, asrama putra , asrama putri, musholla, kantor, perpustakaan , mes guru , laboratorium komputer (21 unit, 1 server dan lainnya peserta), 1 ruang laborat IPA, 7 kolam lele, kantin, lapangan volly, tenis meja, lapangan bulu tangkis, 1 unit gedung BLK santri dan ruang berikut alat kasidah.
Kegiatan ekonomi yaitu : Kopontren dan kantin. (Mohon doa dan dukunganny, kami sedang berikhtiar untuk melaksanakan ikhtiar iqtishodiyah budi daya walet).
5. Santri Bina Insani
Para santri dan santriwati mayoritas berasal dari Propinsi Bali, tapi ada juga dari Propinsi-Propinsi lain di Indonesia, seperti dari Sumatera, Jawa, Lombok, NTT dan dulu banyak berasal dari Timtim. Jumlah santri dan santriwati saat ini 134 orang dengan 34 orang guru. Sebanyak 9 orang ustad dan ustadzah sebagai guru tetap yang mendampingi dan mengkoordinir kegiatan santri selama 24 jam.
6. Prestasi Bina Insani
Para santri telah mengikuti berbagai kegiatan baik pada level kabupaten, propinsi, maupun nasional diantaranya :
• Tahun 1998 mengikuti STQ tingkat propinsi Bali di Kabupaten Karang Asem dan meraih juara II tingkat anak-anak.
• Tahun 1998 mengikuti lomba kejuaraan Karate tingkat propinsi Bali di Denpasar, meraih juara II & III putri tingkat pemula.
• Tahun 1997 mengikuti pelbagai perlombaan & kejuaraan bidang agama yang diselenggarakan oleh Ikatan Remaja Masjid Bali di Denpasar dengan perolehan peringkat juara I & II.
• Tanggal 9 – 13 September 1999 mengikuti lomba koreografi Gedung Kesenian Jakarta Awards II 1999 di Jakarta, memperoleh juara harapan.
• Tahun 2000 mengikuti lomba Hadrah Tk.Propinsi di Karangasem dan meraih juara III.
• Tahun 2001 mengikuti kejuaraan Pekan Olahraga Seni Pesantren Nasional (POSPENAS I) di Al-Azzaitun, Jawa Barat bidang voly putri
• Tahun 2003 mengikuti kejuaraan Pekan Olahraga Seni Pondok Pesantren Nasional (POSPENAS II ) di Palembang bidang lari 200 m
• Tahun 2005 mengikuti kejuaraan Pekan Olahraga Seni Pondok Pesantren Daerah Propinsi Bali( POSPEDA III ) di Negara, semua bidang.
TAHUN 2010
A. Lomba POSPEDA V tingkat kabupaten
1) Juara I pidato bahasa Arab & Inggris putra putri
2) Juara I puisi Islami, cipta puisi Al Qur’an, cipta puisi Islami putra putri
3) Juara I lari 100 m putra putri, lompat jauh putra putri, lari 4000m putri
4) Juara I catur putra putri
5) juara I silat kelas A, B, C dan D putri
6) Juara I silat kelas B, C dan D putra
B. Lomba POSPEDA V tingkat propinsi
1) Juara I silat putra kelas C
2) Juara I (WO) silat putri kelas D
C. Lomba Jambore & Olimpiade MA
1) Juara I pidato bahasa Inggris putra
2) Juara I pidato bahasa Arab putrid
3) Juara II olimpiade matematika
4) Juara III pidato bahasa Inggris putrid
5) Juara III olimpiade agama
7. Pengajar Bina Insani
Para pengajar terdiri dari lulusan –lulusan perguruan tinggi yang berbasis keagamaan seperti dari IAIN dan Alumni Pondok Pesantren lainnya serta dari perguruan tinggi umum (IKIP, UNUD). Di antara para guru terdapat beberapa orang yang beragama Hindu dengan mengajarkan mata pelajaran sesuai dengan keahliannya serta mengajarkan tradisi masyarakat Bali dengan tujuan agar para santri memahami tradisi yang hidup di tengah-tengah masyarakat sehingga komunikatif dan interaktif dengan lingkungannya.
Nama-nama pengajar asli dari Bali:
1) Drs H Ktut Imaduddin Djamal, SH (Pontren Nahdlotul Wathon Lombok Timur – IAIN Syarif Hidayatulloh Jakarta),
2) Ktut Gufron Nurfat SPd.I (STIT Al Mustaqim Negara Bali),
3) Wayan Muhamad Mahfudz S.Sos.I (Pontren Bali Bina Insani – Pontren AL Amin – PT Al Amin Prenduan Sumenep Madura),
4) I Nyoman Neser SPd (IKIP Singaraja),
5) Ni Wayan Wartini SPd,
6) Ketut Fatimah SPdI (STIT Al Mustaqim Negara Bali),
7) Nengah Agus Ahmad Rijal AMa (UNBA),
8) Ni Made Suardani,
9) I Made Suadnyana, SPd,
10) I Nyoman Suyastri, SPd,
11) I Made Astawa SPd,
12) Putu Trisna S.SOs,

Nama-nama pengajar muslim:
1) Chairul Fadly SpdI (Pontren Al Ikhlas Taliwang),
2) M Fauzi SAg (Pontren Nahdlotul Wathon Lombok Timur),
3) Sulaiman S.Sos,
4) Hendriansyah Afif (Pontren Darussalam Gontor Ponorogo),
5) Usbani (pontren Bali Bina Insani),
6) Mujiono Eko Susanto SPd,
7) Agus Sucipto SPd,
8) Drs. Imam Mawardi, MPdI,
9) Dra Pegy Umamy
10) Lis Setyo Budi R, SPd,
11) Rini Kusiandarsih, SPd,
12) Turoichan AI (Pontren Salafiah Jawa Timur),
13) Harun Arasid (Pontren Al Iman Gontor),
14) Drs Muhammad MH (Pontren NW Lombok Timur),
15) Vivin Fatmawati (Pontren Al Iman Putri V),
16) Haris Budi Santosa SPd,
17) Ir H Joni Santosa SPd,
18) Ida Lailatul Qoyumah SPd,
19) Yuli Saiful Bahri SPDI (Pontren Darunnajah Jakarta)
8. Agenda Kegiatan Santri dan Guru Bina Insani

Agenda Harian
60’ seb. Subuh Bangun tidur dan qiyamul lail di amsjid / mushola terdekat*
Waktu subuh Shalat subuh berjamaah
Ssd subuh – 05.45 Kegiatan kajian kitab kuning
06.45 – 07.30 Mandi dan makan pagi (kebersihan lingkungan)
07.15 – 07.30 Apel pagi didepan kelas
07.30 – 11.50 Belajar formal (jam ke 1 – 8)
11.50 – 13.00 Shalat dzuhur berjamaah dan makan siang
13.00 – 14.20 Istirahat, belajar KOMPIL
Waktu ashar Shalat ashar berjamaah
Ssd ashar – 17.30 Kegiatan pilihan KOMPIL
17.30 18.15 Bersih diri, iktikaf di masjid
Waktu maghrib Shalat maghrib berjamaah
Ssd maghrib – isya’ Belajar diniyah
Waktu isya’ Shalat isya’ berjamaah
Ssd isya’ – 20.30 Makan malam dan belajar tutorial
20.30 – 22.00 Tadabur lail dan bersiap untuk tidur
22.00 – 04.00 Tidur
*) untuk santri baru dan santri – santri yunior (MTs)
30’ sebelum subuh Bangun tidur dan qiyamul lail
07.30 – 12.50 Bangun formal di kelas – kelas (jam ke 1 -7 )
12.50 – 13.50 Shalat dzuhur berjamaah dan makan siang
13.50 – ashar Kegiatan pilihan
Agenda Mingguan
Hari Waktu Kegiatan
Kamis Ba’da isya’ 20.30 – 22.30 Latihan pidato bahasa Arab, Inggris, Indonesia
Jum’at Ba’da subuh Hizib nahdlatul wathon la royba
06.00 – 07.30 Senam wajib dan kerja lingkungan
07.30 – 08.30 I’lan usbu’ al-lughoh
Ba’da ashar Hailalah dan silat
Sabtu Ba’da ashar Karate
Ahad Ba’da dzuhur – qoblal maghrib Pramuka
Ba’da maghrib Barjanji

BAB III
PELAKSANAAN KULIAH KERJA LAPANAGN

A. PEMBEKALAN (COACHING)
Pembekalan merupakan sebuah langkah awal dalam rangkaian kegiatan KKL. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum mahasiswa melakukan aktifitas KKL di lapangan. Pembekalan (coaching) ini bertujuan untuk memberikan gamabaran atau arahan secara umm tentang kegiatan sekaligus pertunjuk teknis pelaksanaanya. Oleh karena itu, acara ini diwajibkan bagi seluruh peserta KKL untuk mengikutinya, mengingat pentingnya acara tersebut.
Pembekalan KKL dilaksanakan pada tanggal 8 November 2011 bertempat di laborat dakwah fakultas dakwah IAIN Walisongo Semarang, Acara ini secara resmi dibuka oleh pembantu Dekan I Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, Drs. H. M. Sulthon, M.Ag. Dalam sambutannya beliau menjelaskan tentang pentingnya KKL bagi seorang mahasiswa. Pasalnya dengan KKL, mahasiswa Fakultas Dakwah mendapatkan bekal praktis sebelum terjun kedunia lapangan pekerjaan. Selain itu mahasiswa juga akan memperoleh pengetahuan dan pengaamam materi sesuai dengan jurusaannya secara optimal. Beliau juga memberi beberapa pesan yang hendaknya diperhatikan dalam mejalani KKL diantaranya adalah: disiplin dalam mengikuti KKL, menempatkan sebagai tamu mahasiswa yang baik, hendaknya mahasiswa lebih proaktif dalam mengikuti KKL, dan memperkaya pengetahuan.
Acara Pembekalan selanjutnya diisi dengan beberapa pembekalan materi yang berkaitan dengan Materi yang akan dibahas pada saat KKL. Pada dasarnya materi ini diberikan kepada Mahasiswa untuk menjadi bekal para peserta KKL yang nantinya akan membantu mereka untuk bisa lebih memahami materi KKL. Setelah materi selesai disampaikan, Pembekalan selanjutnya diberikan dengan memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang tata tertib KKL, mulai dari Jadwal kegiatan KKL baik KKL lokal maupun KKL yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Bandung, sehingga mahasiswa bisa mengikuti rangkaian kegiatan KKL dengan disiplin dan tertib.
B. PELAKSANAAN KKL DI PENAMAS KEMENAG KOTA MALANG (MINOR)
Dari kunjungan kepenamas setelah mengunjungi PENAMAS kita mengetahui banyak tentang program unggulan yang ada di PENAMAS itu sendiri, diantaranya ada program Pendidikan Al-Qur’an dan MTQ, penyuluhan dan lembaga dakwah, siaran dan tamadddun, publiksi dakwah dan HBI, dan pemberdayaan Masjid, tidak hanya itu saja kita diberi pengarahan dan cara kerja Penyuluh PENAMAS yang bekerja sama dengan masyarakat. Kami diajarkan bagaimana cara menghadapi permasalahan yang ada di masyarakat dan menggunakan panduan sesuai Al-Qur’an dan Hadist. Banyak sekali metode yang digunakan didalam PENAMAS itu sendiri yang tergantung pada tipologi masyarakat Malang.
Analisis Masalah yang sudah dicontohkan oleh pihak PENAMAS ke kita adalah dalam menghadapi masalah tersebut pihak PENAMAS benar-benar memberikan jalan keluar untuk pasangan suami istri itu kemudian memberikan solusi kepada kedua belah pihak yang bersangkutan. Agar dalam menyelesaikan masalahya dengan menggunakan kepala dingin dan dipertimbangkan terlebih dahulu agar tidak mengambil keputusan yang tidak diinginkan.

C. PELAKSANAAN KKL DI PONPES BALI BINA INSANI ( MAYOR )
Pelaksanaan KKL di Bali Bina Insani bertempat di Masjid Bina Insani yang ada di yayasan setempat, pada tanggal 12 November 2011. KKL kedua ini di buka oleh Drs H Ktut Imaduddin Djamal, SH, Kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Drs H Ktut Imaduddin Djamal, SH juga. Awal acara dimulai dengan perkenalan. Selanjutnya kami disambut tarian yang ditarikan oleh santrinya.Tarian tersebut dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang atau menyambut tamu. Sebelum masuk pada inti materi, beliau terlebih dahulu menjelaskan tentang sejarah ponpes Bina Insani, memberikan materi mengenai latar belakang ponpes bina insani dan bagaimana metode pengajaran yang dijalankan di ponpes tersebut. Menurut beliau ponpes bina insani didirikan tanggal 27 okt 1991 oleh pemuda kakak beradik asli bali yaitu ketut imaduddin jamal dan Nengah m.sururudin. Ponpes bina insani terletak di desa mliling.Awalnya ponpes bina insani masih mempunyai 166 santri, namun sat ini sudah mencapai ribuan santri. Untuk pengajarannya para ustadz dan ustadzah berpedoman pada alquran dan hadist. Ponpes bina insani mempunyai 32 guru didik yang beragama islam dan 9 beragama hindhu. Para ustadz dan ustadzah tidak merasa kuatir kepada guru yang beragama hindhu karena mereka yakin para guru non muslim tersebut tidak akan melakukan niat yang selain mengajarkan pelajaran yang diampuh.Lagian para guru yang non muslim difokuskan hany mengajarkan ilmu eksak seperti matematika, biologi dan ekonomi, dan lain sebagainya.Jadi tidak berkaitan dengan ilmu agama.Ponpes bina insani yayasan la-royba merupakan salah satunya ponpes yang mewajibkan para santri untuk dapat menguasai 3 bahasa seperti bahasa indonesia, b.arab dan bahasa ingris. Ustadz …. juga memberikan alasan penggunaan nama la-royba. pencarian nama la-royba menghabiskan waktu 6 bulan. Ternyata nama la-royba merupakan penggabungan unsur tradisiona dan modern. Setelah pemberian materi selesai kami diberikan waktu untuk tanya jawab. Tanya jawab mahasiswa mengenai strategi pengembangan ponpes mengenai kekawatiran para pengajar yang membolehkan ada pengajar yang beragama hindu serta metode pengajaran yang dilaksanakan selama ini. Setelah tanya jawab selesai kami solat dhuhur berjamaah di masjid dan dilanjutkan foto bersama.Suatu kebanggan bagi kami bisa berkunjung di ponpes yang terletak ditengah masyarakat yang beragama selain islam, namun pondon bina insani semakin maju dan santrinya bertambah banyak. pada dasarnya Ponpes bina insani merupakan wadah bagi umat islam yang ada di Bali guna mengembangkan keilmuan islam yang berada ditengah masyarakat nonmuslim.. Tujuannya yakni Mewujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin dalam berbagai aktivitas pengabdian kemasyarakatan dan Bersahabat dengan semua umat tanpa melihat sekat, baik etnis, geografis, maupun ideologis.
Selain itu Ponpes Bina Insani juga memiliki peran dalam mendidik siswa dan siswi muslim yang memang berada dalam yayasan laroyba ponpes bali bina insani. Oleh karena itu dibangunlah berbagai fasilitas untuk bersekolah dan mendalami ilmu yang santri dapatkan. Dengan fasilitas ini diharapkan dapat menopang kegiatan akademik para siswa dan siswi (santriwan dan santriwati).

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai akhir dari laporan ini penyusun menyampaikan beberapa kesimpulan yang merupakan inti dari uraian di atas :
1. Adanya coaching sangat membantu mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan KKL, selain itu mahasiswa juga bisa mendapatkan materi dasar yang berkaitan dengan tempat-tempat KKL yang akan dikunjungi.
2. Penamas Kota Malang dan Ponpes Bali Bina Insani merupakan tampat-tampat yang memiliki keterkaitan dengan Ilmu Dakwah khususnya Penyuluh Sosial sebagai sebuah ilmu yang menjadi konsentrasi bagi Mahasiswa Konsentrasi Bimbingan dan Penyuluhan Islam.
3. Tempat-tempat tersebut memiliki beberapa fasilitas yang sangat mendukung kinerja Lembaga masing-masing. Dengan fasilitas-fasilitas yang dimiliki Lembaga-lembaga tersebut telah berhasil menghasilkan beberapa data sebagai sumbangsih terhadap ilmu dakwah.

B. Saran-saran
Adapun saran-saran yang dapat penyusun sampaikan searah dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan ( KKL ) adalah sebagai berikut :
1. Bekal teoritis bagi peserta KKL hendaknya lebih mematangkan lagi sebelum bergabung dengan KKL. Hal ini sangat membantu untuk mengembangkan teori yang telah dimiliki, sehingga KKL hanyalah upaya uji teori yang telah dimiliki.
2. Dalam pelaksanaan kuliah kerja lapangan yang di tekankan bukan lah pada tournya akan tetapi kegiatan tersebut harus lebih banyak menekan kan pada pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) itu sendiri dan waktu yang di berikan juga lebih lama sehingga kuliah kerja lapangan tersebut dapat tercapai dengan maksimal
3. Perlu adanya evaluasi secara serius terhadap pelaksanaan KKL agar tidak hanya sekedar rutinitas yang berkesan formalitas, akan tetapi benar-benar merupakan pengalaman praktis yang menuntut mahasiswa paham dengan beberapa tempat dan system kerjanya sesuai dengan disiplin keilmuan masing-masing.
4. Optimalisasi peran dan fungsi pembimbing selama KKL sebagaimana seharusnya, sehingga pembimbing tidak terkesan hanya formalitas saja.

C. Penutup
Dengan memuji syukur kehadirat Allah SWT akhir nya penyusun dapat menyelesaikan laporan kuliah kerja lapangan sebagai bahan pelengkap untuk menyelesaikan studi di Fakultas Dakwah. Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penyusun pada khusus nya dan mahasiswa pada umum nya sebagai bahan masukan dan kritikan bagi pelaksanaan kuliah kerja lapangan di masa yang akan datang . amiin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: